Mengulas jalur hijau sekitar Gramedia Yogyakarta

Saat pertama kali melihat jalur ini hati penuh berdecak kagum wawwww, area yang sangat metro tetapi sangat saya tidak pedulikan dulu menjadi area yang nyaman sekarang hahaha,  lampu sorot diletakan pada setiap pohon seperti berbicara kepada kita untuk bersanda gurau bersamanya, yang saya aneh kenapa sedikit orang nongkrong di area ini hmmm sayang sekali bangkunya pada kosong dan tong sampah yang jarang terisi penuh, muncul pertanyaan apakah taman ini cukup wort it untuk dipertahankan, sepi pengunjung, lampu dimalam hari tampak gemerlap.
    Tapi yang jelas ini merupakan kemajuan, terbalik dengan saudara dekatnya Jalan Malioboro seperti lautan manusia, melihat saja sudah sesak haha, kalo kita pikir mungkin dipengaruhi oleh garis imajiner Jogja yang begitu kuat, mengokohkan pamornya, masak wisata ke jalur hijau gramedia, gak bisa nyombong dong ama teman dan keluarga hahaha, tetapi itu malah bagus menurut saya karena jalur hijau ini menjadi fasilitas publik bagi penghuni Jogja, tapi yoo kok sepi, indah tetapi seperti tak memiliki kehidupan, sedangkan trotoar sempit yang terdapat angkringan begitu hidup, kolong jembatan juga, pokok nya setiap ada angkringan ruang tersebut menjadi cukup frienly lah ya kwkwkwkw, kalo kita logikakan mungkin angkringan menjadi daya magnet yang kuat bagi pengunjung untuk menikmati suasana santai ataupun diskusi, tentu pemikiran ini sudah terimplementasi dengan malioboro yang cukup bersahabat dengan kaki lima tetapi itupun karena mereka sudah cukup lama disana, penolakan keras pun pasti muncul apabila mereka tidak difasilitasi, pemikiran saya bahwa jalur hijau ini disediakan area komersial untuk angkringan dapat berjualan ataupun tipologi lainnya.

Tetapi umur jalur hijau ini pun terhitung muda setelah diubah, mungkin kebiasaan kita untuk bersantai di area seperti ini belum lumrah, malioboro tentu berbeda dengan pamor nya sebagai wisata jogja, jujur saya sendiri pun sedikit wagu kwkw, mungkin saya akan lebih nyaman lesehan di trotoar yang buluk

Yang cukup menarik adalah penempatan bangku yang dekat dengan perpus, integrasi perencanaan yang baik, saya penempatan rak buku di trotoar seperti menyapa setiap insan yang lewat untuk sedikit bersantai menikmati buku,

Kemudian suatu pemikiran yang baik atau lebih tepat nya belajar dari pengalaman di negara +62 atau lebih dikenal dengan nama indonesia, lampu sorotnya dibeton kwkwkw, well kalo rusak ya bongkar beton nya, agak ribet tapi tergolong sedikit lebih ribet kalo orang mau mencurinya, peletakan lampu sorot dengan ditutupi tanaman sejenis bakung memberikan efek dramatis pada area sekitar tersebut, tetapi juga tidak terlalu padat sehinga masih dapat memberikan kesan kolosal pada pohon, pada area depan dekat lampu merah, pemilihan tanaman cenderung dengan ketinggian rendah, hal ini tak lepas dari pentingnya aksesbilias pengendara, itu merupakan standar umum yang lebih ciamik komposisi lampu penerangan dan vegetasi yang keren, lampu memiliki bentuk bulat tumpul yang tidak terlalu mencook sehingga tidak dominan mengambil proporsi visual, pada vegetasi terdapat tiga layer pada bagian dasar tanaman kacang-kacangan atau pintoi, pada layer kedua soka india yang begitu mungil tapi padat dan segar dan yang terakhir adalah tanaman yang saya tidak mengerti apa namanya kwwkw kuning lah pokok nya, cukup eye  catching kemudian sungguhan utama berupa instalasi negara asean, tappp 
     Dilihat-lihat dari aliran pemilihan bahan dan furniture saya teringat dengan seorang perancang senior di Jogjakarta Ardhyasa Fabrian Gusma ST. Msc  dari A + A Studio, sepertinya mas Gusma lah perancang nya, sekian perjalanan saya di Jalur hijau gramedia, sampai bertemu di review lainnya hahaha

Respond For " Mengulas jalur hijau sekitar Gramedia Yogyakarta "

  • uma landscape Admin Oktober 23, 2019 13:11

    спасибо тебе
  • Greggsus Oktober 18, 2019 04:45

    Хорошая статья
WhatsApp chat